Di tengah kegemerlapan dunia sekarang ini, saat teknologi semakin canggih dan informasi bergulir dengan cepatnya ternyata tidak menjamin masyarakat suatu negara menjadi bahagia. Justru sebaliknya, tidak jarang negara yang kita sebut maju, namun penduduknya banyak yang stress sampai-sampai bunuh diri.
Ketika kemewahan melimpah ruah, mengapa justru kebahagian menjadi sesuatu yang langka untuk diperoleh. Tidak sedikit kita jumpai orang kaya yang mengalami stress dan berakhir sroke yang disebabkan karena kekayaannya. Wal hasil, seluruh jerih payah yang dikerahkannya untuk mecari harta, terpaksa ditinggal karena sang penjemput nyawa datang menemuinya.
Fenomena ini banyak terjadi di kota-kota besar. Sebab di sana solidaritas sosial kurang begitu diindahkan. Seiring dengan sifat individualis yang mengakar, oleh karenanya berbuat baik terhadap sesama adalah barang langka. Sehingga terbentuklah komunitas yang cuek dan hanya peduli pada diri sendiri.
Inilah sebabnya kebahagiaan tidak berpihak pada mereka-mereka yang sibuk mengurusi diri sendiri. Padahal andai mau disadari, peduli dengan orang lain dengan berbuat baik pada sesama bisa menimbulkan kepuasan tersendiri dalam batin. Karena fitrahnya manusia diciptakan tidak hanya menerima tetapi juga memberi. Keduanya mestilah seimbang agar kebahagian bisa diperoleh.
Oleh karena itu, demi terciptanya satu komunitas yang bahagia maka dianjurkan saling tolong menolong, bahu membahu dalam usaha kebaikan tersebut.